Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Featured Posts

Kamis, 26 Juni 2014

CARA MEMBUAT PAKAN LELE ORGANIK DARI KOTORAN SAPI

Baik, pengalaman ini didapatkan dari beberapa orang yang sudah mencoba membuat pakan alternatif ini. Jangan dibayangkan mentah-mentah bahwa kotoran buat makanan, sebenarnya prinsipnya kita memanfaatkan kotoran sapi yang nantinya sebagai media tumbuh cacing. Nah,,berikut adalah cara pembuatan pakan alternatif yang saya maksudkan.

Untuk resep 10 Kg  Kotoran sapi.

Bahan
  1. Kotoran sapi yang sudah didiamkan sekitar 1 mingguatau minimal 5 hari  di ruang terbuka sebanyak 10 kg.
  2. Probiotik Cair, dapat di beli di toko-toko pertanian. Jenis probiotik yang biasa digunakan adalah EM4, Biocatfish dan masih banyak lagi, tinggal kita tanya saja saat akan membeli di toko pertanian. Dapat juga tidak menggunakan Probiotik, tapi waktu inkubasi / waktu penimbunan akan semakin lama.
  3. Air untuk melumatkan kotoran sapi yang sudah mengering, atau kotoran sapi yang terlalu keras. Air ini sifatnya sebagai pengencer, namun jangan terlalu encer saat proses pengenceran. Idealnya seperti adonan yang kental seperti adonan roti.
Alat
  1. Drum yang ada tutupnya, atau wadah apa saja yang kedap udara dan tidak ada lubang.
  2. gayung
  3. Ember
  4. dan alat-alat lain yang kiranya dibutuhkan.
Cara Pembuatan :
  1. Siapkan adonan kotoran sapi yang tadi telah dibuat seperti adonan sebanyak 10 kg. Disini kita akan membuat resep untuk 10 Kg kotoran sapi.
  2. Masukan adonan tadi ke dalam blong / drum atau wadah lain yang kedapudara.
  3. Siapkan probiotik dan tuangkan sebanyak 20 tutup botol atau sekitar 200 ml probiotik ke dalam kotoran sapi tadi.
  4. Aduk agar merata dan tercampur sempurna.
  5. Inkubasi / diamkan selama 24 jam di tempat yang tertutup agar terjadi Fermentasi / Penguraian. pada proses ini jangan ada udara yang masuk, karena udara akan menggagalkan proses fermentasi. Dalam istilah biologi fermentasi jenis ini adalah fermentasi tanpa membutuhkan Oksigen. Jadi usahakan benar-benar tertutup rapat.
  6. Setelah 24 jam, Buat lubang di wadah. Biarkan udara masuk kedalam. Biarkan selama minimal 7 hari dalam keadaan teraliri udara, semakin lama semakin bagus, namun jangan sampai bertahun-tahun . Lubang di buat atau dengan membuka seperempat tutup saja atau melubangi tutup.
  7. Setelah sekitar 7 hari akan banyak cacing yang hidup, ini menandakan proses pembuatan Pakan lele berhasil. 
  8. Pakan sudah dapat digunakan, biasanya pakan jenis ini sangat cocok untuk lele pada saat pembenihan atau masih berukuran tidak lebih besar dari 2 jari.
Semoga Artikel ini bermanfaat..

Rabu, 10 April 2013

Cara merawat bibit lele

Setelah larva menetas tidak perlu diberi makan selama ±2 hari, dikarenakan larva tersebut masih menyimpan cadangan makanan berupa kuning telur yang terdapat dalam perutnya. Beri makanan setelah cadangan makan pada larva lele habis, lele yang masih kecil (stadium larva) tersebut diberi pakan berupa cacing sutera (tubifex sp.) selama  ±14 hari.

Pemberian Pakan Pada Bibit Lele
Setelah bibit lele berumur 15 hari barulah kita dapat memberikan pakan buatan (pelet), untuk lele berukuran 1-2 cm bisa diberikan pakan PSC atau lebih bagus di beri pakan udang DO-A, akan tetapi pelet ini bersifat tenggelam maka diperlukan kehati-hatian agar tidak berlebih dalam memberikan pakan PSC ataupun DO-A, pakan yang tenggelam dan tidak termakan oleh bibit akan terakumulasi di dasar kolam sehingga dapat mempercepat turunnya kualitas air sebagai akibat bertambahnya jumlah amonia yang bersifat racun bagi bibit lele itu sendiri. Setelah bibit berukuran 2-3 cm diberikan pakan F999 atau PF 1000 hingga bibit lele berukuran 4-6 cm atau siap tebar.
Seleksi
Pertumbuhan bibit lele umumnya tidak seragam, lele yang tumbuh lebih cepat atau lebih besar dari yang lainnya akan memakan lele yang ukuranya lebih kecil di bawahnya, untuk menghindari sifat kanibal dari lele tersebut maka diperlukan seleksi pada setiap ukuran lele, seleksi lele biasanya dilakukan dengan bantuan ember seleksi yang memiliki lubang dengan ukuran tertentu. Seleksi pada bibit lele sebaiknya dilakukan minimal 2 minggu sekali.
Pergantian Air
Pada perawatan bibit lele diperlukan pergantian air secara berkala minimal setiap 2 minggu sekali, atau fleksibel tergantung dari kondisi air. Apabila pada permukaan air terdapat lumut maka air harus diganti sesegera mungkin. Biasanya untuk seleksi dan pergantian air dilakukan secara bersamaan.
Penebaran Benih
Penebaran  benih  sebaiknya  dilakukan  pada  pagi  atau  sore  hari  atau  pada saat  udara  tidak  panas.  Sebelum  ditebarkan  ke  kolam,  benih  diaklimatisasi  dulu (perlakuan  penyesuaian  suhu)  dengan  cara  memasukan  air  kolam  sedikit  demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang  sudah  teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan  yang  baru  yaitu  kolam.  hal  ini  berarti  bahwa  perlakuan  tersebut dilaksanakan  diatas  permukaan  air  kolam  dimana  wadah  (kantong)  benih mengapung  diatas  air.  Jumlah  benih  yang  ditebar  50-80 ekor/m3 yang  berukuran 5-7 cm. sebagai gambaran kolam berukuran 3×4 m dengan ketinggian 0.75-1 m idealnya mampu menampung lele sebanyak seribu ekor hingga ukuran siap panen.
Pemberian Pakan
Selain  makanan  alami,  untuk  mempercepat  pertumbuhan  ikan  lele  perlu pemberian  makanan  tambahan  berupa  pellet.  Jumlah  makanan  yang  diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat  total  ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan  frekuensinya  3-4  kali  setiap  hari.  Pemberian pakan dapat diberikan pakan buatan atau pelet F-781 atau di berikan pakan alternatif seperti jeroan ikan atau jeroan ayam

Rabu, 25 Januari 2012

Cara Budidaya Lele

I. Pendahuluan.
Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat, daging empuk, duri teratur dan dapat disajikan dalam berbagai macam menu masakan. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu petani lele dengan paket produk dan teknologi.

II. Pembenihan Lele.
Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele mempunyai prospek yang bagus dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.

III. Sistem Budidaya.
Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :
1. Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.
2. Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.
3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi).
Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele.

IV. Tahap Proses Budidaya.
A. Pembuatan Kolam.
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :

Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.

Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.

Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.

B. Pemilihan Induk
Induk jantan mempunyai tanda :
- tulang kepala berbentuk pipih
- warna lebih gelap
- gerakannya lebih lincah
- perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
- alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina bertanda :
- tulang kepala berbentuk cembung
- warna badan lebih cerah
- gerakan lamban
- perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.

C. Persiapan Lahan.
Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :
- Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
- Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.

- Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.

- Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :
- Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
- Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama

D. Pemijahan.
Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.

E. Pemindahan.
Cara pemindahan :
- kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
- siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
- samakan suhu pada kedua kolam
- pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
- pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.

F. Pendederan.
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 - 7 cm, 7 - 9 cm dan 9 - 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.

V. Manajemen Pakan.
Pakan anakan lele berupa :
- pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 - 4 hari.
- Pakan buatan untuk umur diatas 3 - 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
- Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.

VI. Manajemen Air.
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
- air harus bersih
- berwarna hijau cerah
- kecerahan/transparansi sedang (30 - 40 cm).

Ukuran kualitas air secara kimia :
- bebas senyawa beracun seperti amoniak
- mempunyai suhu optimal (22 - 26 0C).

Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan.

TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang.

Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.

VI. Manajemen Kesehatan.
Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain.

Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai.

Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.

Peluang Usaha Lele Sangkuriang

Reputasi lele dumbo sejak diperkenalkan di Indonesia tahun 1985 langsung melejit. Pertumbuhan yang cepat, serta penyerapan pasar yang sangat tinggi seiring menjamurnya warung tenda pecel lele membuat para pelaku bisnis melirik budidaya lele.

Tetapi ternyata laju produksi belum berhasil mengimbangi laju permintaan sehingga pasar selalu kekurangan pasokan.

Inilah yang menantang para ahli perikanan untuk menemukan varietas lele baru: yang pertumbuhannya lebih cepat tanpa mengurangi kualitas dan cita rasa daging lele yang sudah ada bahkan dengan cita rasa yang lebih baik.

Maka lahirlah Lele Sangkuriang – hasil perkawinan induk lele dumbo betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan lele dumbo generasi keenam (F6) yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Peluang Usaha Budidaya Lele Sangkuriang. Meskipun bermoyang lele Dumbo, namun lele Sangkuriang memiliki kelebihan dibandingkan leluhurnya.

Jika dibandingkan dengan lele Dumbo, “lele Sangkuriang memiliki produktivitas lebih tinggi, panen lebih cepat, kemampuan daya tetas telur lebih tinggi, daya tahan terhadap penyakit lebih tinggi dan rasa dagingnya lebih gurih.lele Sangkuriang hanya membutuhkan waktu 50 – 60 hari untuk siap dipanen

Konversi pakan pada lele Dumbo adalah 1,2:1 sedangkan pada lele Sangkuriang 1:1. Artinya untuk menghasilkan daging 1 kg Cuma dibutuhkan pakan l kg juga.). Kemampuan bertelurnyanya pun berbeda. Jika indukan lele Dumbo hanya bertelur antara 2000-15.000, lele Sangkuriang mampu hingga 20.000.

PASOKAN LELE
Kemajuan teknologi mempercepat masa panen akan membuat pasar menjadi jenuh karena tingkat kebutuhan konsumsi daging lele masih jauh dari tercukupi. Untuk Jakarta dan sekitarnya saja per hari kebutuhan daging lele mencapai 80 ton. Sementara kemampuan memasok baru 60 ton per hari. Itu pun sudah memperhitungkan pasokan yang diambil dari luar daerah, misalnya dari Indramayu.

TIPS DAN SARAN
Peluang Usaha Budidaya Lele Sangkuriang, Kepada para pemula disarankan untuk memulainya dengan membesarkan 1000 lele Sangkuriang terlebih dahulu. “Hitung – hitung sebagai wahana untuk belajar. Untuk pembesaran ikan lele Sangkuriang berskala bisnis, minimal harus membudidayakan 3000 ekor.

Kolam disarankan agar menggunakan kolam terpal. Alasannya, dengan kolam terpal pemanenan lebih gampang dan hasil panen juga lebih mudah diprediksi. “Sebaiknya menggunakan terpal yang dipres bukan dijahit, supaya air tidak merembes.”

Populasi disarankan tak lebih 100 ekor per M2. Selain dimaksudkan agar ikan mengalami pertumbuhan yang maksimal, juga meminimalisir kanibalisme, yang memang sudah menjadi tabiat alamiah lele. “Pemberian pakan tepat serta populasi tidak terlalu padat perilaku lele.

Mula – mula kolam terpal di isi air setinggi 50 CM dan diberi pupuk kandang atau kompos. Setelah delapan hari akan muncul jentik-jentik dan benih ikan ukuran 4 – 6 CM bisa ditebarkan ke dalamnya. Selama masa pembesaran itu pakan berganti sekitar empat kali sesuai dengan pertumbuhan ikan.

Setiap kali pergantian jenis pakan, kolam ditambah air setinggi 20 CM. Sehingga pada saat siap panen tinggi air kira-kira 120 CM. Kondisi PH air juga harus selalu dikontrol, terutarna sekali setiap habis hujan, karena biasanya derajat keasaman air meningkat.
Analisis Bisnis Pembesaran Lele Sangkuriang
1.      Biaya Investasi
-          Pembuatan satu kolam terpal ukuran 2 Mx5 M                                   Rp. 500.000,-
2.      Biaya Produksi
-          Pembelian benih 1000 ekor @Rp150; -                                              Rp. 150.000,-
-          Pakan
3 kg pelet L1  @Rp 7.500,-                                                                 Rp. 22.000,-
­5 kg pelet L2  @Rp 7.000,-                                                                 Rp. 35.000,-
­22 kg pelet PL @Rp 6.700,­-                                                                Rp. 147.000,-
70 kg pelet tenggelam @Rp5.400                                                       Rp. 378.000,-
Biaya Penyusutan Kolam 10% x Rp500.000,-                                     Rp.   50.000,-+
­Total Biaya Produksi Rp. 782.400,-
3.      Pendapatan
Total produksi x harga lele Sangkuriang/kg  ( 12 x Rp.11.000,)                Rp. 1.320.000,-
4.      Keuntungan
Keuntungan = Total pendapatan – Total biaya produksi
=  Rp1.320.000 – Rp782.000
=  Rp. 537.600,-
5.      Analisis Kelayakan Usaha
BEP Harga       = Total biaya produksi Rp782.400 Rp. 6.550./kg
Total produksi                    120
BEP Produksi  = Total biaya produksi     Rp782.400                                         71,2 kg
Harga jual/kg                   11.000
Artinya pembesaran tidak mengalami keuntungan maupun kerugian jika dijual Rp6.550; /kg Atau jika produksi yang terjual hanya 71,2 kg.

Menyimak Pengalaman Rosalita, Pembudidaya Lele Organik

Bermodal Rp 1 Juta, Sukses Menjadi Pengusaha Lele
Awalnya tak menyukai lelemelihat bentuknya pun takut.

Kini, mencium untung dariikan lele diendus Rosa Rosalitasejak setahun terakhir. Semulaia hanya menjadi ibu rumahtangga kini justru menjadientrepreneur sebagai peternaklele organik. Profesi yang jarangdilirik kaum perempuan itu justrumelambungkan kesuksesannyamembudidayakan lele.
Bagaimana kisahnya?
YERIVLORIDA


Dikisahkannya, awalnya ia mengetahui lele dari internet. Rasa penasaran ia telusuri hingga nekat mengikuti pelatihan khusus lele Sangkuriang, di Gadok, Bogor, lawa Barat.

Selama tiga hari dengan bermodal satu juta rupiah untuk biaya pelatihan, ia tekun mengikuti pelatihan hingga usai. Hasilnya, Rosa menerapkan ilmu itu dengan memanfaatkan lahan tidur miliknya yang berada di belakang komplek tempat ia bermukim di Graha Raya, Bintaro, Tangerang Selatan.

Bentangan lahan seluas seribu meter persegi ia gunakan untuk membuat bak berlapis terpal menjadi benih lele. "Saat pelatihan pesertanya dari seluruh Indonesia," terang perempuan kelahiran Bandung 20 November 1969 itu. Tadinya, kata Rosa, ia hanya menjadi ibu rumah tangga yang mengurusi keluarga.

Namun keinginannya kuatnya terjun menjadi entrepreneur tak surut. Hingga
kini, Rosa cukup dikenal sebagai pembenih di kalangan pengusaha lele. "Harga lele murah meriah terjangkau semua lapisan masyarakat dibanding daging sapi dan ayam," kata ibu tiga anak itu.

 Ternak lele tidak begitu rumit asalkan dirawat dengan tekun hingga masa panen. Untuk benih dalam sebulan sudah bisa dipanen. Sedangkan untuk jual daging, masapanen cukup singkat yakni tiga bulan.

Lele sangkuriang ini merupakan perbaikan genetik melalui silang balik antara induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan lele dumbo generasi keenam (F6). Induk betina (F2) berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia pada 1985 oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi.

Cara Singkat dan Praktis Membuat Lubang Saluran Pembilas Pada Kolam Terpal

Seperti janji kami beberapa waktu lalu pada para pengunjung blog ini khususnya para pemerhati dan pembudidaya ikan pada media kolam terpal serta adanya permintaan dari beberapa rekan lainnya, baik yang disampaikan langsung via telpon, SMS maupun kolom komentar di blog ini maka berikut kami tampilkan contoh praktis membuat lubang pembilasan pada kolam terpal yang dapat dilakukan dengan mudah, murah, dalam waktu sangat singkat (tak lebih dari 20 menit !), tanpa memerlukan peralatan dan keahlian khusus, tanpa lem (perekat), tanpa pemanasan dan tentu saja yang paling penting : tanpa terjadi kebocoran (rembesan).

Anda tak perlu lagi membuang banyak waktu, begitu selesai dibuat, saluran pembilas ini dapat langsung difungsikan.

Bagaimana hal ini dapat dilakukan? Anda tentu penasaran bukan? Silakan simak uraian singkat kami berikut ini...

Sebagai contoh kami gunakan pipa paralon (PVC) berdiameter 1,5" (inch) sepanjang 1 meter dengan sok penyambung yang sesuai untuk pipa paralon tersebut. Tentu saja Anda dapat menggunakan diameter dan ukuran panjang pipa paralon (PVC) serta sok penyambung yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan.

Langkah pertama, siapkan beberapa alat dan bahan sebagai berikut (gambar 1). 
- 1 pipa paralon (PVC) type D berdiameter 1,5" sepanjang lk 1 m atau lebih (sesuaikan dengan kebutuhan)
- 1 sok penyambung untuk pipa PVC 1,5". Pilihlah sok penyambung yang berkualitas baik
- 1 sok penutup, sesuai ukuran pipa PVC 1,5" 
- 1/2 lembar kertas gosok (amplas/ amril), pilihlah type yang sedikit kasar (No 1 atau 1 1/2)
- 1 mata gergaji besi
- 1 mata pisau/ cutter (ukuran sedang) dan juga lembaran terpal yang akan Anda gunakan sebagai media (kolam) pemeliharaan ikan

Kedua, dengan menggunakan gergaji besi, bagilah ujung pipa paralon menjadi dua bagian yang sama, searah panjang pipa sepanjang kira-kira 8-10 cm (gambar 2) dan (gambar 3)

 gambar 2

 gambar 3

Ketiga, sisipkan bagian ujung lembaran amplas pada lubang yang dibuat sebelumnya (gambar 4) dan putarlah lembaran amplas tersebut mengelilingi ujung pipa paralon sehingga terbalut sempurna (gambar 5)

gambar 4

gambar 5

Keempat, ujung pipa paralon yang telah terbalut amplas kemudian dimasukkan ke lubang sok penyambung. Lakukan secara perlahan dan hati-hati sehingga tidak terjadi sobekan atau lipatan pada kertas amplas tersebut (gambar 6)

gambar 6


Kelima, putarlah ujung pipa berikut amplas pembalutnya di dalam lubang sok penyambung, pastikan putaran pipa adalah searah dengan proses pembalutan amplas. Lakukan beberapa putaran hingga diperoleh tingkat kekasaran yang merata pada sisi dalam lubang sok. Jika sudah, cabutlah pipa paralon berikut ampas dari lubang sok penyambung tersebut dengan sedikit tarikan sambil tetap mempertahankan arah putaran (gambar 7).

gambar 7

Keenam, lepaskan amplas dari ujung pipa paralon (PVC) kemudian letakkan lembaran terpal secara tegak lurus pada ujung pipa paralon (PVC) pada lokasi dimana lubang pembilas pada terpal akan dibuat kemudian pada sisi terpal yang berlawanan dipasang sok penyambung (yang sisi/ bagian dalamnya telah dikasarkan) lalu tekanlah sok secara perlahan hingga pipa paralon dan lembaran terpal masuk ke dalam lubang sok (gambar 8)
gambar 8

Agar diperoleh sambungan yang benar-benar rapat, proses penekanan dapat dibantu dengan memukulkan sebatang kayu pada permukaan sok secara perlahan agar bagian terpal yang berada dalam jepitan sok dan pipa PVC tidak sampai cacat/ sobek (gambar 9).

gambar 9

Lakukan beberapa kali pukulan hingga diperoleh tingkat kekencangan dan kerapatan yang cukup. 

Pastikan permukaan bagian terpal dalam lubang sok penyambung terlihat kencang, rata dan tidak terjadi lipatan (gambar 10).

gambar 10

Ketujuh, buatlah sayatan pada berbentuk 'cross' atau 'X' pada permukaan terpal dengan menggunakan ujung pisau tajam (cutter) secara hati-hati (gambar 11). Usahakan setiap ujung sayatan tidak sampai menyentuh bagian tepi sisi dalam sok penyambung (gambar 12). Potonglah bagian terpal di sekeliling sisi dalam sok penyambung dengan menggunakan pisau (cutter) hingga diperoleh lubang yang rapi (gambar 13). Jika ternyata Anda agak kesulitan merapikan tepian lubang ini, gunakanlah amplas dengan cara mengosokkannya secara perlahan pada arah melingkar di bagian tepian lubang tersebut. 

gambar 11

gambar 12



gambar 13

Kedelapan, pastikan lubang pembilasan telah dibuat dengan benar dan tidak terdapat celah atau cacat pada titik pertemuan antara terpal, pipa PVC dan sok penyambung, baik pada bagian terpal yang akan menjadi sisi luar kolam (gambar 14) maupun terpal bagian dalam kolam (gambar 15).

gambar 14

gambar 15

Sampai tahap ini proses pembuatan lubang pembilasan telah selesai namun masih diperlukan satu langkah lagi yakni memasang sok penutup pada bagian ujung sok penyambung di sisi terpal bagian dalam kolam maupun di sisi luar kolam (jika memang di perlukan).

Kini terpal siap dihamparkan. Mudah dan praktis bukan?? 

Sebagai saluran pembilas, lubang dapat dibuat pada bagian dasar kolam (gambar 16) sedangkan sebagai pengatur level muka air kolam dapat pula dipasang (lebih tepatnya, ditancapkan) sebatang pipa PVC pada lubang pembilas tersebut (gambar 17 & 18).

gambar 16


gambar 17

gambar 18
Dengan sedikit kreatifitas, Anda pun dapat membuat lubang sejenis pada dinding dasar kolam yang dapat berfungsi ganda yakni sebagai saluran pembilas sekaligus juga sebagai lubang tempat memasang pipa siphon (penyedot lumpur dasar kolam).

Selamat mencoba, semoga berhasil !!

Seeding Of Sangkuriang Catfish

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Pengembangan usaha budidaya ikan ini semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985.

Peningkatan tersebut dapat terjadi karena ikan lele dumbo dapat dibudidayakan pada lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar yang tinggi, modal usahanya relatif rendah karena dapat menggunakan sumber daya yang relatif mudah didapatkan, teknologi budidayanya relatif mudah dikuasai masyarakat dan pemasaran benih dan ukuran konsumsinya relatif mudah.

Perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung oleh kontrol yang baik terhadap penggunaan induk telah mengakibatkan terjadinya perkawinan sekerabat (inbreeding) yang tinggi.

Perkawinan sekerabat ini telah menyebabkan terjadinya ketidakstabilan perrtumbuhan ikan yang ditandai oleh adanya penurunan pertumbuhan pada produksi pembenihan dan pembesaran.

Hasil evaluasi fluktuasi asimetri terhadap benih yang berasal dari Sleman, Tulung Agung dan Bogor menunjukkan telah terjadi peningkatan ketidakstabilan pertumbuhan lele dumbo yang ditandai dengan tingginya tingkat asimetri dan abnormalitas (Nurhidayat, 2000).

Sedangkan menurut Rustidja (1999), pada awal masuk ke Indonesia, pembudidaya lele dapat menghasilkan ukuran konsumsi hanya dalam waktu 70 hari dari ukuran benih 3-5 cm, namun dengan pola budidaya yang sama, ukuran konsumsi baru dapat dicapai setelah pemeliharaan lebih dari 100 hari.

Untuk mendekatkan kembali mutu benih lele dumbo saat ini kepada mutu asalnya, perlu dilakukan perbaikan-perbaikan pada proses produksi induk lele dumbo.


Perbaikan mutu lele dumbo dapat dilakukan dengan beberapa strategi, antara lain dengan cara seleksi, hibridisasi, silang-balik, ginogenesis maupun transgenik (Rustidja, 1999).

Peningkatan mutu dengan silang-balik dilakukan pada lele dumbo, mengingat sebagai ikan hibrida yang introduksi ke Indonesia, tanpa disertai dengan induk murninya, sehingga tidak dapat dilakukan proses hibridisasi.

Proses silang-balik dilakukan dengan cara mengawinkan induk lele yang ada saat ini dengan tetuanya sehingga walaupun program ini termasuk proses silang-dalam namun dapat mendekatkan kembali variasi genetik yang dipunyai tetuanya.

Rustidja (1999) menyarankan untuk melakukan perkawinan induk saat ini dengan generasi pertama hingga generasi ketiga.

Upaya perbaikan tersebut telah dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi sejak tahun 2000 dan telah menghasilkan lele SANGKURIANG yang memiliki pertumbuhan yang lebih baik.

Hasil perekayasaan ini menghasilkan “Lele SANGKURIANG” yang sudah dilepas sebagai varietas unggul dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 26/MEN/2004 tanggal 21 Juli 2004.

Lele SANGKURIANG memiliki fekunditas dan pertumbuhan yang lebih tinggi serta tingkat konversi pakan yang lebih rendah dibandingkan dengan lele SANGKURIANG yang saat ini beredar di masyarakat (Tabel 1).

NoKarakterLele SangkuriangLele Dumbo
I.                Karakter Reproduksi  
I.1.          Kematangan gonad pertama (bulan)8 – 94 – 5
I.2.          Fekunditas (butir/kg induk betina)40,000 – 60,00020,000 – 30,000
I.3.          Diamater telur (mm)1.1 – 1.41.1 – 1.4
I.4.          Lamanya waktu inkubasi telur pada suhu 23 oC – 24 oC (jam)30 – 3630 – 36
I.5.          Lamanya kantung telur terserap pada suhu 23 oC – 24 oC (hari)4 – 54 – 5
I.6.          Derajat penetasan telur (%)> 90> 80
I.7.          Panjang larva umur 5 hari (mm)9.139.13
I.8.          Berat larva umur 5 hari (mg)2.852.85
I.9.          Sifat larvaTidak kanibalTidak kanibal
I.10.      Kelangsungan hidup larva (%)90 – 9590 – 95
I.11.       Pakan alami larvaMoina sp.Daphnia sp.Tubifex sp.Moina sp.Daphnia sp.Tubifex sp.
II.              Karakter Pertumbuhan  
II.1.        Pertumbuhan harian bobot benih umur 5 hari – 26 hari (%)29.2620.38
II.2.        Panjang standar rata-rata benih umur 26 hari (cm)3 – 5 2 – 3
II.3.        Kelangsungan hidup benih umur 5 hari – 26 hari (%)> 80> 80
II.4.        Pertumbuhan harian bobot benih umur 26 hari – 40 hari (%)13.9612.18
II.5.        Panjang standar rata-rata benih umur 40 hari (cm)5 – 83 – 5
II.6.        Kelangsungan hidup benih umur 26 hari – 40 hari (%)> 90> 90
II.7.        Pertumbuhan harian bobot pada pembesaran selama 3 bulan (%)3.53 
II.8.        Pertumbuhan harian bobot calon induk (%)0.85 
II.9.        Konversi pakan pada pembesaran0.8 – 1.0> 1
III.            Toleransi terhadap Lingkungan  
III.1.      Suhu (oC)22 – 3422 – 34
III.2.      Nilai pH6 – 96 – 9
III.3.      Oksigen terlarut (mg/l)> 1> 1
IV.           Toleransi terhadap Penyakit  
IV.1.      Intensitas Trichodina sp. Pada pendederan di kolam (individu)30 – 40> 100
IV.2.     Intensitas Ichthiophthirius sp. Pada pendederan di kolam (individu)6.3019.50