Pages

Subscribe:

Labels

Rabu, 25 Januari 2012

Betapa Besarnya Permintaan Lele !

Kebutuhan atau permintaan terhadap lele tidak pernah surut, bahkan cenderung meningkat setiap tahun. Boleh dibilang, produksi yang ada saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar.

Untuk wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok saja, setiap hari membutuhkan sekitar 75 ton lele konsumsi.

Tingkat konsumsi lele nasional pada tahun 2003 meningkat 18.3%, yakni dari 24.991 ton/tahun menjadi 57.740 ton/tahun. Revitalisasi lele sampai akhir tahun 2009 menargetkan produksi sejumlah 175 ton atau meningkat rata-rata 21.64% per tahun.

Sementara itu, permintaan benih lele juga terus meningkat dari 156 juta ekor pada tahun 1999 menjadi 360 juta ekor pada tahun 2003 atau meningkat rata-rata sebesar 46% per tahun. Kebutuhan benih lele hingga akhir tahun 2009 diperkirakan mencapai 1.95 miliar ekor.

Dari uraian di atas, bisa dibayangkan betapa besarnya kebutuhan dan permintaan lele, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor.

Situasi ini merupakan suatu indikasi dan peluang baik bagi siapa pun yang ingin meramaikan khasanah usaha budi daya lele di negeri ini. ( Sumber AgroMedia.com)

MODEL KERAMBA JARING APUNG (KJA) SEDERHANA DI KOLAM TERPAL

de untuk membuat keramba jaring apung (KJA) sederhana ini sebenarnya telah muncul beberapa waktu lalu namun karena beberapa kesibukan maka baru sekitar 2 minggu yang lalu keramba ini selesai dibuat. Gagasan untuk pembuatan keramba ini bermula dari 'kerepotan' yang dialami beberapa rekan pembudidaya saat harus melakukan grading (penggolongan atau pengkelasan) bibit ikan berdasarkan ukurannya. Bagi pembudidaya ikan, aktifitas grading memang sudah merupakan kegiatan 'wajib' yang rutin dilakukan pada pemeliharaan ikan, baik di kolam tradisional, permanen maupun kolam terpal.

Grading bibit ikan biasanya dimulai pada segmen pembibitan dan berlanjut hingga segmen pembesaran, menjelang tercapainya ukuran konsumsi. Seperti telah sama-sama diketahui bahwa grading bibit ikan (yang umumnya masih dilakukan secara manual) merupakan proses yang cukup melelahkan dan menyita banyak waktu. Dimulai dari persiapan alat-alat budidaya yang diperlukan, seperti; jaring, seser, ember-ember penyaring (khususnya pada pembibitan lele) dan tong (drum) plastik sebagai wadah (tempat penampung sementara) ikan hasil grading hingga persiapan kolam-kolam tempat tujuan pemencaran bibit ikan.

Pada kondisi normal, proses grading ikan gurame dimulai saat bibit berukuran 'kuku' (size 1-2 cm) telah dipelihara selama kurang lebih 35 sampai 40 hari hingga mencapai ukuran 'korek gas' (size 2-3 cm). Proses grading berikutnya adalah saat bibit ikan gurame mencapai ukuran 'silet' (size 2,5-4 cm) sekitar 40 hari masa pemeliharaan dari ukuran 'korek gas'. Setelah dipelihara lagi selama 40-45 hari, bibit gurame ukuran 'silet' ini akan mencapai ukuran 'korek kayu' (size 3,5-5 cm). Pada tahapan inilah, disamping proses grading, dilakukan pula langkah penjarangan (pemencaran) bibit ikan ke beberapa kolam terpal lain yang telah dipersiapkan sebelumnya. Proses pemencaran ini dilakukan agar tercapai tingkat kepadatan ikan yang ideal. Demikian seterusnya, grading dan penjarangan pun kembali dilakukan hingga bibit ikan gurame mencapai ukuran '3 jari' dan '4 jari'. Pada kondisi normal, setelah bibit ikan mencapai ukuran 'tempelan' atau kira-kira sebesar telapak tangan orang dewasa (5 jari) maka proses grading tak lagi dilakukan karena tingkat keseragaman ukuran bibit ikan gurame umumnya telah tercapai. Menjelang ukuran konsumsi, kepadatan populasi bibit ikan gurame sebaiknya dipertahankan pada kisaran 10-12 ekor/m3 agar dicapai tingkat pertumbuhan yang optimal.

Pada tingkat kepadatan yang terlalu tinggi akan menyebabkan bibit ikan tidak dapat berkembang dengan baik. Terjadi kompetisi ruang dan pakan yang mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi tidak seragam. Beberapa bibit ikan memang dapat tumbuh dengan cepat namun sebagian besar lainnya justru terhambat (berukuran kerdil). Sering didapati, bibit ikan yang berukuran kerdil ini cukup banyak jumlahnya sehingga harus dipelihara lagi ditempat terpisah hingga mencapai ukuran standar. Proses ini tentu akan memakan waktu dan membutuhkan biaya ekstra. Hal yang demikian tentu tidak dikehendaki oleh para pembudidaya karena bagaimanapun juga nilai jual bibit ikan lebih ditentukan oleh ukuran fisiknya, bukan oleh umur atau lamanya masa pemeliharaan.

Selain menyebabkan tingkat keseragaman pertumbuhan ikan yang tidak merata, pemeliharaan bibit gurame dengan tingkat kepadatan yang terlalu tinggi akan menyebabkan kualitas air kolam sulit untuk dikontrol. Kualitas air kolam dapat berubah dengan cepat dan tidak jarang hanya dalam hitungan jam kualitas air kolam telah menurun drastis. Hal ini mungkin cukup mengagetkan bagi pembudidaya ikan yang baru mencoba menekuni usaha pembibitan gurame. Bibit ikan yang semula tampak sehat, gesit dan lincah tiba-tiba sebagian besar mengalami 'kolaps' keesokan paginya tanpa adanya tanda-tanda (gejala) serangan penyakit pada hari sebelumnya.

Untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya hal tersebut (akibat terlambatnya proses penjarangan) serta upaya untuk menghemat waktu saat grading maka muncul gagasan untuk mencoba mengadopsi cara pemeliharaan ikan dengan model keramba jaring apung (KJA) seperti yang banyak ditemui pada budidaya ikan dengan sistem air mengalir seperti di danau dan sungai serta kawasan perairan tenang di sekitar teluk dan pantai. Walaupun pola budidaya ikan di media kolam terpal sedikit berbeda (tidak menggunakan sistem air mengalir) namun kami pandang metode keramba jaring apung (KJA) ini dapat pula diterapkan pada kolam terpal, hanya saja diperlukan sedikit modifikasi bentuk dan ukuran keramba serta beberapa penyesuaian seperlunya.

Pada tahap awal kami coba membuat 3 jenis keramba sederhana berukuran 1 x 1 m2, 2 x 1  m2 dan 3 x 1 m2 dengan kedalaman jaring sekitar 90 cm hingga 1 meter (disesuaikan dengan kedalaman setiap kolam), masing-masing diperuntukkan bagi kolam terpal berukuran 4 x 4 m2 atau 4 x 6 m2, kolam 4 x 8 m2 dan kolam 6 x 6 m2. Untuk menghemat biaya, ketiga jenis keramba ini dibuat dari bahan-bahan sisa atau bahan bekas pakai yang masih dapat dimanfaatkan kembali seperti ; 
- potongan pipa-pipa paralon (PVC) berbagai ukuran
- tali plastik berukuran sedang dan
- beberapa bagian dari lembaran jaring pemanen bibit yang sudah tak terpakai namun masih dapat dimanfaatkan kembali untuk membentuk jaring keramba
- dan jaring pelindung/ penutup permukaan keramba (jika dipandang perlu).
Bahan lainnya yang perlu disiapkan adalah beberapa sok penyambung pipa paralon (PVC) yang sesuai yakni ; type 'I', 'L' (knee) dan 'T' serta lem PVC tentunya.

Untuk membentuk 1 keramba jaring apung sederhana setidaknya diperlukan 2 jenis ukuran pipa paralon (PVC), yakni pipa paralon 1,5" sebagai rangka pengapung (sekaligus penggantung jaring) dan pipa paralon 1/2" sebagai rangka pemberat nya. Untuk ukuran keramba yang lebih kecil (1 x 1 m2), rangka pemberatnya cukup menggunakan pipa paralon berukuran 5/8".

Berikut ini adalah contoh pembuatan keramba jaring apung sederhana berukuran 2 x 1 m2 yang akan digunakan pada kolam pendederan berukuran 4 x 8 m2 dengan kedalaman genangan sekitar 1 meter.

Tahap pertama adalah membentuk rangka pengapung (pipa paralon 1,5") dan rangka pemberat (pipa paralon 1/2") masing-masing berukuran 2 x 1 m2. Setiap sambungan antar pipa pada rangka pengapung harus dipastikan betul-betul rapat (kedap udara) karena akan berfungsi sebagai pelampung (Gambar 1). Berbeda halnya dengan rangka pengapung yang berisi udara, rangkaian pipa paralon 1/2" sebagai rangka pemberat justru diisi air atau pasir sehingga dapat tenggelam dalam genangan air kolam.

Tahap kedua, memasang jaring berukuran 2m x 1m x 1m (yang telah disiapkan sebelumnya) pada rangka pengapung dengan menggunakan tali plastik mengitari sisi bawah rangka (gambar 2). Awal pemasangan jaring dapat dimulai dari salah satu sudut rangka pengapung menuju sudut berikutnya di arah sisi panjang rangka (gambar 3). Setiap melewati salah satu sudut rangka selalu dilakukan pemeriksaan tingkat kekencangan dan kerapihan ikatan antara jaring dan rangka (gambar 4). Demikian seterusnya hingga seluruh jaring dapat terpasang tepat seperti yang direncanakan dan siap untuk dimasukkan ke kolam pemeliharaan benih ikan (gambar 5).

 Gambar 3
                                               
Gambar 4

Gambar 5

Tahap ketiga, sebelum uji coba sebaiknya telah dipastikan rangka pemberat dapat berfungsi dengan baik. Seluruh bagian rangka pemberat yang telah diisi air terlihat tenggelam sempuna dalam posisi horisontal (gambar 6). Jika tidak maka sebagian tirai jaring keramba akan 'menekuk'. Hal ini menandakan bahwa rangka pemberat tidak berfungsi dengan baik sehingga rangka yang semula diisi air harus diganti dengan bahan lain yang memiliki berat jenis lebih besar, misalnya pasir.

Gambar 6
Tahap keempat adalah tahap uji coba untuk memastikan setiap bagian keramba (2 x 1 m2) ini telah terangkai dengan benar dan dapat berfungsi sesuai rencana (gambar 7 dan 8) demikian pula halnya pada keramba yang berukuran lebih kecil yakni 1 x 1 m2 (gambar 9). Untuk mencegah lolosnya bibit ikan yang mungkin saja dapat 'melompat' keluar melewati rangka pelampung maka perlu dipasang penutup keramba berupa hamparan jaring atau pelindung berbentuk pagar jaring yang dipasang pada posisi tegak (vertikal) setinggi 30-40an cm tepat diatas rangka pengapung di sekeliling keramba sederhana ini.

Gambar 7

Gambar 8

Gambar 9


Dengan sedikit kreatifitas Anda pun dapat membuat keramba-keramba sejenis yang sejak awal memang telah dirancang untuk dapat saling terangkai membentuk modul-modul keramba sederhana yang dapat diletakkan pada bagian tengah kolam atau bahkan mengelilingi tepian kolam terpal. Dengan demikian diharapkan dalam 1 kolam terpal setidaknya terdapat 2 hingga 4 jenis ukuran bibit ikan yang dapat dipelihara dalam waktu yang hampir bersamaan. Hal ini tidak saja mempersingkat waktu saat harus melakukan proses grading namun juga akan menghemat kebutuhan ruang (kolam) budidaya.

Tidak tertutup kemungkinan pola pemeliharaan beberapa jenis ikan dalam satu medium dengan teknik heterotrofik (ikan lele dan nila) dapat pula diterapkan pada kolam terpal dengan menggunakan model keramba jaring apung sederhana ini.

Bagaimana pendapat anda ?
 

Dongkrak Harga Jual Lele Konsumsi Pembudidaya Harus Melakukan "Grading"

Seiring maraknya budiaya ikan lele di kolam terpal, produksi lele konsumsi di Kabupaten Tabanan belakangan makin melimpah. Namun melimpahnya produksi lele ini ternyata tidak diimbangi dengan manajemen pemasaran yang baik. Akibatnya, harga lele di pasaran sempat anjlok sehingga membuat pembudidaya lele kelimpungan.

Kepala Dinas Perikanan dn Kelautan (Diskanlaut) Kbupaten Tabanan Ir. I Nyoman Wirna Ariwangsa, MM saat ditemui Manggala di ruang kerjanya, Selasa (10/5) mengakui pembudiaya ikan di Kabupaten Tabanan sebelumnya banyak yang mengeluh karena harga lele sempat turun. 

Terkait keluhan ini, pihaknya lantas melakukan pengamatan pasar serta melakukan iventarisasi permasalahan di tingkat pembudiaya dan pengepul. “Antara pembudiaya ikan selaku produsen dan pengepul selaku konsumen terjadi mis komunikasi. Harga lele sebenarnya stabil. Bahkan cenderung meningkat,” jelasnya. 
 
Menurut Ariwangsa, turunnya harga lele di tingkat pengepul seperti yang dikeluhkan para pembudiaya ikan sebelumnya, ternyata diakibatkan para pembudiaya ikan tidak melakukan “grading” atau pemilahan ikan yang dijual berdasarkan ukuran yang dikehendaki pengepul. “Pembudidaya menjual ikan dengan berbagai macam ukuran. 

Sementara pengepul menginginkan lele berukuran satu Kg terdiri 6-7 ekor,” katanya sambil menambahkan, akibat penjualan dengan sistem root (segala ukuran) tersebut, pengepul harus mengeluarkan biaya tambahan lagi untuk melakukan grading sebelum menjual ikannya ke konsumen.

Terkait hal itu, Ariwangsa menghimbau agar pembudidaya ikan melakukan grading sebelum menjual ikannya ke pengepul atau konsumen. “Ikan yang dijual harus sesuai permintaan pasar.

Kalau pasar menginginkan sekilo terdiri dari 6 – 7 ekor, ukuran itulah yang harus disediakan oleh pembudiaya. Bukan menyediakan ukuran 1-2 ekor/Kg atau 8 – 10 ekor/Kg,” sarannya.

Selain menghimbau pembudiaya ikan melakukan grading, dalam waktu dekat ini pihaknya juga akan melakukan temu usaha, mempertemukan antara pembudiaya ikan selaku produsen dengan pengepul lele selaku konsumen. 

Di samping itu, untuk menekan biaya pakan, Wirna minta kepada pembudiaya ikan untuk memberikan pakan alternatif seperti keong, bekicot, limbah ikan dan dedaunan.

“Dengan beberapa tindakan tersebut, kita harapkan pembudidaya lele di Tabanan bisa bersaing dengan produsen lele dari daerah lain,” katanya sambil menambahkan pihaknya tidak bisa menyetop masuknya lele dari luar daerah ke Bali. “ Kami tidak punya wewenang untuk itu. 

Karena kegiatan itu sudah merupakan mekanisme pasar,” papar Wirna.
Sementara itu, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) “Srikandi”, Banjar Soka Kaja, Desa Antap, Selemadeg, I Made Suardika mengakui, harga lele di tingkat pengepul memang sempat anjlok dari semula Rp 11 ribu menjadi Rp 10 ribu/Kg. 

“Kami menduga anjloknya harga lele karena banyaknya lele dari Jawa yang masuk ke Bali. Dugaan kami ternyata tidak sepenuhnya benar. Turunnya harga karena kami tidak melakukan grading,” katany berterus terang.

Menurut Suardika, setelah pihaknya melakukan grading sesuai permintaan pasar, harga lele kembali normal seperti semula. Hal senada diungkapkan Komang Dharma Susila, Ketua Pokdakan “Dharma Nadi” di Desa Buruan, Penebel. Komang yang berprofesi juga sebagai pengepul ikan lele ini menuturkan bila harga lele selama ini tetap stabil.

Pihaknya membeli lele dari para pembudiaya ikan dengan harga Rp 11 ribu/kg untuk size 6 – 8 ekor sekilo . Sedangkan size 3 – 5 ekor sekilo dibeli dengan harga Rp 12.000/Kg . “Saya menjual ke konsumen berkisar Rp 12 ribu – 15 ribu per Kg sesuai ukuran yang diminta konsumen,” katanya berterus-terang.

Perawatan Tepat, Panen Lele Pun Maksimal

Di desa Gunungsari, kecamatan Beji, Pasuruan, seorang petani lele berhasil membudidaya ikan lele dengan hasil yang maksimal. Dalam kolam seluas 120m2, Kayat, demikian nama petani lele itu menebar 22000 ekor bibit lele dumbo berukuran 5cm-7cm. Hampir 3 bulan kemudian, bibit yang mulanya hanya berbobot 90kg, saat panen menjadi 2 ton lebih.

Dengan harga Rp.9.500 per kilogram untuk lele konsumsi, omzet yang didapat Kayat sekitar 19 juta rupiah. Dari omzet tersebut, Kayat mengeruk laba bersih sekitar 9 juta sesudah dipotong biaya untuk bibit, pakan dan obat-obatan.
 
Perawatan TepatBudi daya lele sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Di desa Gunungsari yang dikenal sebagai sentra budidaya lele konsumsi itu, sekitar 60 persen masyarakatnya menekuni usaha ini. Namun demikian, hanya sedikit saja yang mendapatkan hasil maksimal seperti yang diperoleh Kayat. Tidak jarang, diawal-awal atau pada minggu pertama setelah penebaran, banyak bibit lele yang mati.
 
 
Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kondisi air kolam yang kotor, bibit kurang baik, hingga serangan penyakit. Tidak sedikit petani lele di daerah itu gagal panen karena lelenya mati semua. Kalau sudah begitu, bukan keuntungan yang didapat, tetapi jutaan rupiah akan melayang.
 
LeleUsut punya usut, keberhasilan Kayat dalam budi daya lele diawali dari persiapan kolam secara matang, kemudian pembelian bibit lele yang baik/tidak mudah sakit, hingga pemberian pakan yang cukup.
Untuk menghindari kondisi air kolam rusak, sirkulasi air perlu diatur, terutama setelah pemberian pakan, dengan demikian air kolam akan selalu bersih dan lele tidak mudah terserang penyakit.
 
Lele tergolong ikan dengan konsumsi pakan cukup besar, jika pakan kurang, maka sesama lele akan saling memangsa. Untuk itu pemberian pakan jangan sampai telat. 
 
Untuk mengirit biaya pakan, Kayat biasa memberikan limbah telur atau ayam sebagai pengganti pakan pelet yang harganya sangat mahal. Kebutuhan total pakan lele sendiri bisa mencapai 80% dari total biaya operasional.
 
Apa kunci dari keberhasilan panen lele milik Kayat ? Kuncinya adalah perawatan air kolam dan pemberian pakan yang cukup. Dalam perawatan air kolam, selain menggunakan cara-cara yang sudah biasa dilakukan, Kayat pun menambahkan larutan probiotik. Probiotik yang digunakan adalah Marine Bioaquatic–disebarkan ke air kolam 2 kali seminggu.
 
Marine Bioaquatic mengandung bakteri-bakteri penetralisir air kolam untuk melindungi ikan dari racun dan bakteri-bakteri penyebab penyakit. 
 
Selain itu, supaya daya tahan ikan optimal dan tidak mudah terserang penyakit, petani berusia 45 tahun ini juga memberikan Marine Biostimulant yang aplikasinya dicampurkan dengan pakan. Pemberian Biostimulan, ujarnya, ternyata berpengaruh besar terhadap percepatan pertumbuhan lele.

Pemijahan Ikan : Penentuan Waktu Ovulasi

Kunci kedua yang harus benar-benar dikuasai pada pemijahan ikan adalah penentuan waktu stripping atau waktu ovulasi. Stripping yang terlalu atau lambat dapat mengakibatkan rendahnya keberhasilan tingkat penetasan telur dan menyebabkan kerusakan induk bahkan kematian.

Waktu ovulasi tercapai pada periode tertentu setelah penyuntikan (waktu laten). Waktu laten pada spesies ikan yang berbeda dapat berbeda pula bahkan pada spesies ikan yang sama, bergantung pada tingkat kematangan akhir gonad, temperatur inkubasi induk, kondisi lingkungan dan kondisi fisiologis ikan lainnya. 
 
Karena itu, penentuan waktu laten pada selang waktu tertentu tidak dapat secara mutlak digunakan, berbeda dengan selang waktu injeksi hormonal pertama dan kedua (bila menggunakan dua kali injeksi).
Secara simpel, identifikasi waktu ovulasi dapat dilakukan dengan mengurut bagian perut ikan ke arah genital secara perlahan.
 
Bila sudah ada sedikit telur yang keluar secara lancar (bukan dipaksa), waktu ovulasi sudah tercapai sehingga pengurutan selanjutnya dapat dilakukan dan dilanjutkan dengan pembuahan.
 
Secara akurat, waktu ovulasi dapat ditentukan berdasarkan posisi inti. Dengan pemberian larutan serra (60% ethanol, 30% formaldehyde, 10% acetic acid glacial), inti sudah mengalami kerusakan dinding germinal (GVBD, germinal vesicle breakdown).

PENTINGNYA SELEKSI BIBIT LELE (GRADING)

Seleksi bibit lele dapat dilakukan dengan beberapa cara. Umumnya para pembudidaya memilih cara manual yang cukup praktis menggunakan peralatan sederhana yakni berupa susunan saringan benih lele yang terbuat dari ember plastik berlubang-lubang (perforated). Ember jenis ini biasanya banyak tersedia di pasar-pasar ikan tradisional ataupun di beberapa poultry yang menyediakan peralatan dan perlengkapan budidaya perikanan. Diameter lubang-lubang penyaring pada setiap ember biasanya telah dibuat seragam, sesuai dengan ukuran standar benih lele. Dalam prakteknya terkadang diperlukan 2 sampai 3 susunan ember yang berbeda dalam satu kali proses penyaringan terutama jika ukuran bibit lele yang dikehendaki ternyata cukup bervariasi.

Saat dilakukan proses seleksi bibit, ember-ember penyaring ini disusun berdasarkan ukuran diameter lubang-lubang penyaringnya. Ember dengan ukuran diameter lubang-lubang penyaring terbesar berada pada urutan teratas dan ember dengan ukuran lubang-lubang penyaring yang lebih kecil berada pada urutan berikutnya. Demikian seterusnya hingga ember dengan diameter lubang penyaring paling kecil yang sesuai dengan kebutuhan dan variasi ukuran bibit yang dikehendaki.

Variasi ukuran bibit lele 2/3 hingga 4/6

Proses seleksi bibit lele melalui penyaringan

Bibit yang berukuran lebih besar atau kecil dipisahkan

Awal seleksi bibit lele biasanya dimulai pada rentang waktu 12 hingga 17 hari setelah fase penetasan telur. Telur-telur yang gagal menetas dan benih yang mati hendaknya dipisahkan sesegera mungkin dari lingkungan bak tetas agar tidak menjadi sumber penyakit bagi benih-benih lainnya. Setelah 4 - 6 hari kemudian atau setelah kantung kuning telur (yolksack) pada setiap larva lele habis terserap maka benih akan terlihat lincah bergerak mencari makanan alami yang ada di sekitarnya. Selama 12-17 hari berikutnya benih lele ini telah dapat diberi makanan alami berupa cacing sutera (tubifex) dan pakan buatan (pellet) yang berbentuk serbuk (halus) yang diberikan secara berangsur-angsur hingga benih lele mencapai ukuran standar 2/2 dan 2/3. Pada saat inilah pertama kalinya seleksi (grading) bibit lele mulai dilakukan. Dalam proses seleksi, bibit lele yang berukuran lebih kecil (kerdil atau 'krucilan') disisihkan dan dipelihara di tempat terpisah, demikian pula halnya dengan bibit yang berukuran lebih besar ('bongsor' atau 'longgoran'), bibit yang terserang penyakit atau bahkan bibit yang cacat.

Jika dikehendaki, bibit lele hasil seleksi pertama ini sebenarnya telah dapat dijual namun jika tidak maka bibit lele dapat dipelihara lagi selama lebih kurang 21 hari untuk kemudian dilakukan seleksi (grading) kembali. Seleksi bibit lele pada tahap kedua ini akan menghasilkan dua ukuran standar yakni 3/5 dan 4/6. Sama halnya dengan proses seleksi pertama, masing-masing ukuran standar 3/5 dan 4/6 ini dipisahkan demikian pula dengan bibit yang berukuran 'krucilan' maupun 'longgoran'. Bagi pembudidaya ikan di Kulon Progo yang menekuni segmen pembibitan, seleksi bibit (grading) pada ukuran 3/5 atau 4/6 ini merupakan saat panen karena ukuran bibit inilah yang paling banyak diminati oleh pembudidaya pada segmen pembesaran atau yang menekuni pemeliharaan lele hingga mencapai ukuran konsumsi (8-12 ekor/ kilogram). Namun ada pula beberapa pembudidaya segmen pembibitan yang memilih memelihara kembali bibit lele berukuran 3/5 atau 4/6 tersebut hingga mencapai ukuran 5/7 dan 7/9 selama lebih kurang 15 dan 21 hari masa pemeliharaan. Umumnya hal ini dilakukan untuk memenuhi pesanan bibit dari para pembudidaya lele di luar daerah Yogyakarta terutama yang berada di luar pulau Jawa.

Pada budidaya ikan lele di segmen pembesaran khususnya  media kolam terpal, proses seleksi (grading) ini tidak perlu lagi dilakukan karena pertumbuhan lele umumnya telah mencapai tingkat keseragaman yang dapat dikatakan relatif merata.


Dengan menerapkan pola budidaya secara intensif pada media kolam terpal berukuran standar 4m x 6m dan 4m x 8m dengan jumlah tebaran bibit berkualitas ukuran standar 4/6 dan 5/7 sebanyak 3000 dan 4000 ekor per kolam maka lele ukuran konsumsi akan dapat dipanen setelah  60 hingga 70 hari masa pemeliharaan.

Lele ukuran konsumsi siap dipanen

Sebagian hasil panen lele ukuran konsumsi

Budidaya Lele Di Kolam Terpal

Kolam Terpal

Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam gali maupun kolam semen.

Kolam karpet pertama kali dicoba dan diciptakan oleh Bapak Mujarob, seorang petani di pedesaan wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada tahun 1999.

Karpet yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran.

Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan.
Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah.

Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif.

Keuntungan lain dari kolam terpal adalah :
1. Terhindar dari pemangsaan ikan liar
2. Dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air maupun panen.

Selain itu untuk mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai dengan usia ikan.
3. Dapat dijadikan peluang usaha skala mikro dan makro,
4. Lele yang dihasilkan lebih berkualitas, lele terlihat tampak bersih, dan seragam.

Persiapan Lahan
1. Pengerjaan tanah
Sebidang tanah ukuran 2 x 5m dikeruk atau digali sedalam 50 cm, ini penting untuk membantu terpal menahan beban air. Pastikan tanah telah dibersihkan dan harus rata, kemudian di tengah-tengah kolam buatlah cerukan kecil memanjang seperti parit untuk saluran air.

2. Pembuatan rangka bambu
Setelah lahan sudah siap maka buatkanlah rangka dari bambu pada sekeliling kolam setinggi 1m dengan pola seperti pagar, pastikan ukuran rangka adalah 5 x 2 x 1,5m (P x L x T) sehingga pemasangan terpal nantinya akan mudah dengan ukuran yg presisi.

3.Persiapan terpal
Belilah terpal dengan ukuran 5 x 8m, kemudian bersihkan menggunakan air dengan cara menggosoknya dengan lap dan diulang beberapa kali supaya zat-zat kimia pada terpal terbuang, tidak dianjurkan menggunakan sabun.

4. Pemasangan terpal
Pasangkan terpal mengikuti bentuk rangka bambu dengan hati-hati supaya terpal tidak bocor, kemudian lipat bagian pojok terpal mengikuti bentuk rangka, setelah itu isilah dengan air. Rapikan terpal sambil pengisian air berlangsung, ini dapat membantu pemasangan terpal lebih mudah.

Setelah terpal terpasang dengan rapi, selanjutnya ikatkan setiap ujung atau sisi terpal dengan tali rapia yang ditambatkan pada rangka bambu, kemudia bagian dalam kolam terpal dicuci dengan kain atau sikat untuk menghilangkan bau lem atau zat kimia yang dapat mematikan bibit ikan.

Setelah itu kolam dikeringkan selam satu hari, barulah kolam diisi dengan air setinggi 30 cm. Kedalaman tersebut sangat ideal bagi bibit yang sewaktu-waktu bergerak kepermukaan air. Air yang telah diisi dibiarkan selama seminggu.

5. Pemupukan kolam
Untuk menciptakan kondisi air yang ideal bagi tempat hidup lele, kita harus membuat pemupukan terlebih dahulu, ini demi mencapai PH air yg sesuai dg kebutuhan lele. Caranya dengan menggunakan kotoran kambing, pertama kita masukan kotoran kambing pada karung sebanyak 15 kg, sebaiknya dibagi dua masing-masing 7,5 kg lalu cemplungkan kedalam kolam, biarkan menggantung dalam air jangan diberi pemberat. biarkan kolam selama 8 hari (minimal).



Silahkan baca artikel penting lainnya DISINI